Tampilkan postingan dengan label hingga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hingga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

VIDEO Guru Nursery Belasah Anak Jagaannya Hingga Retak Tulang Kering!

VIDEO: Guru Nursery Belasah Anak Jagaannya Hingga Retak Tulang Kering!

SEORANG guru pusat jagaan kanak-kanak yang didakwa mendera seorang budak Melayu hingga tulang keringnya retak di Singapura diberkas polis semalam.
Guru sambilan wanita berusia 51 tahun itu bekerja di pusat jagaan kanak-kanak My First Skool di Blok 192 Toa Payoh Lorong 4.
Video kanak-kanak yang bakal menyambut ulang tahun ketiganya 30 Julai didera itu tersebar di Facebook dan cetuskan kemarahan ramai.
Video rakaman CCTV itu yang dimuat naik ibu bapa mangsa menunjukkan seorang wanita memakai tudung menarik tangan budak itu meskipun dia dilihat berjalan terincut-incut.
Sebelum itu, beliau dilihat mengheretnya ke satu sudut dan kelihatan seperti memaksa budak itu duduk serta menampar mukanya dalam kejadian Jumaat lalu.
Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) NTUC First Campus, yang mengendalikan My First Skool,  Chan Tee Seng, meminta maaf atas kejadian itu.
Katanya, pihaknya akan menghulurkan segala bantuan diperlukan mangsa dan ibu bapanya, termasuk membiayai semua kos perubatan.
“Kelakuan guru itu tidak boleh diterima dan saya bersimpati pada budak itu dan ibu bapanya. Saya sendiri akan memastikan siasatan ini dapat diselesaikan dengan adil dan cepat,” katanya.
Pemangku Menteri Pembangunan Sosial dan Keluarga, Chan Chun Sing, berkata pemerintah memandang serius terhadap kes itu dan akan menyiasat dari segi latihan guru, penyeliaan dan pengurusan kejadian.
Hasil siasatan akan dikongsi dengan pengendali pusat jagaan kanak-kanak yang lain.
Ketua pegawai sumber manusia NTUC First Campus, Cik Geraldine Lee, berkata guru terbabit mempunyai kelayakan diploma dan menyertai My First Skool pada 2009 tetapi pihaknya tidak pernah menerima aduan berkenaan beliau.
Ibu bapa mangsa pula meminta anak mereka dipindahkan ke pusat jagaan kanak-kanak My First Skool yang lain.
Ketika dihubungi semalam, bapa mangsa berkata anaknya kerap menangis dan merengek semasa beliau hendak menyiapkannya ke pusat jagaan kanak-kanak itu setiap pagi sejak dua minggu selepas dia menyertai My First Skool di Toa Payoh pada Mac lalu.
“Mulanya saya tak sedar. Dia belum pandai cakap sangat dan saya ingatkan dia nak bersama saya di rumah.
“Sekarang baru saya tahu kenapa dia tak mahu ke sekolah… rupa-rupanya ada ‘raksasa’ di sana,” kata bapa mangsa, 33 tahun. (BH SINGAPORE)
Read More..

Sabtu, 23 November 2013

Gadis Bispak Gang Sadar Banyumas Mampu Menabung Hingga 1 8 Milyar!

 Sekitar 85 Pekerja Seks Komersial (PSK) yang bermukim di Gang Sadar (GS) I dan Gang Sadar II mampu menabung hingga mencapai Rp 1,8 miliar setahun. Namun, saat ini mereka trauma menabung, karena sebagian dana ternyata digunakan Ketua Paguyuban Warga Kos Gang Sadar (GS).

Bendahara GS, Dartun, kemarin menceritakan tabungan yang dimanfaatkan ketua mencapai Rp 547 juta. “Sekarang sisa tanggungan yang belum dikembalikan ke anggota sekitar Rp 254 juta. Sudah ada kesanggupan membayar dari ketua, tetapi sekarang dia sudah tidak lagi di Baturraden,” ungkapnya.
Foto Bugil Telanjang Cewek Montok
Ny Sumiati (60), salah satu induk semang menuturkan uang yang diduga diselewengkan itu dikumpulkan dari penyisihan simpanan wajib per anak kos Rp 5.000/sekali keluar. Kemudian ditambah tabungan harian yang sifatnya sukarela. Baik induk semang maupun anak kos bisa menabung Rp 50.000-Rp 200.000 sehari.

“Masalahnya jadi ramai saat mau ada pembagian menjelang Lebaran lalu. Ternyata uangnya tidak ada. Katanya digunakan dulu oleh ketua, tapi sampai sekarang masih belum dikembalikan,” kata wanita yang akrab disapa Mami Sum itu.

Pengelola empat anak kos tersebut mengaku setelah ada kejadian tersebut sebagian anak kos dan pemilik rumah singgah belum bersedia lagi menabung lewat paguyuban. “Kami masih trauma menabung lagi lewat paguyuban sebelum masalahnya selesai,” ujar mantan ketua paguyuban itu.

Ia mengaku, saat ini uang yang belum diambil ada sekitar Rp 68 juta. Menjelang Lebaran lalu baru dikembalikan Rp 15 juta dan itu dibagikan dulu ke anak kos. Karena ada kejadian tersebut dia bersama empat anak kosnya yakni Friska, Tinah, Ambar, dan Via kemudian menabung sendiri ke BPR/BKK yang dikumpulkan mingguan dan diambil langsung petugas bank.

Friska (30), salah satu anak kos menceritakan, setelah ada kejadian tabungan macet tak bisa diambil masih takut kalau ikut menabung kembali lewat paguyuban. “Saya masih takut, jadinya ya ngikut mami saja,” kata pendatang dari Pacitan Jatim tersebut.

Dari tabungan yang masih terkumpul, Lebaran lalu dia masih bisa membawa pulang sekitar Rp 13 juta. Kalau tabungan yang tersisa bisa diambil pulang membawa sampai Rp 25 juta.

Diuntungkan Tabungan
Melis (23), anak kos lainnya, mengaku diuntungkan dengan adanya simpanan kolektif tersebut. Pasalnya, dari pendapatan setiap malam selalu ada yang disisihkan. ”Saya pernah pegang uang sendiri, tapi malah cepat habis,” ujar perempuan asal Banjarnegara ini.

Dia mengaku dari uang tabungan sebesar Rp 6 juta baru mendapatkan Rp 2,5 juta. Dia berharap pengurus bisa menyelesaikan masalah keuangan itu secepatnya. ”Semoga bisa selesai secepatnya. Kami ingin tabungan bisa berjalan lagi. Soalnya takut uangnya habis kalau dipegang sendiri,” tuturnya.

Dartin, salah satu pengurus yang bertugas menjadi mediator mengatakan hasil pertemuannya Selasa lalu, ketua sudah menyiapkan pembayaran Rp 100 juta. Uang itu hasil penjualan asetnya di Pabuaran. ”Kalau masih ada iktikad baik dan rasa tanggung jawab, saya minta ke menantunya untuk bisa mendatangkan ke sini, dan Selasa lalu datang. Tapi setelah urusan bank selesai, kembali ke Garut lagi,” katanya.

Menurutnya, saat datang yang bersangkutan mengajak bertemu di BKK Purwokerto Selatan untuk menyaksikan proses pelepasan asetnya seharga Rp 170 juta di Pabuaran. ”Saya inginnya masalah selesai dan warga kos tak perlu berbondong-bondong.

Itu tak menyelesaikan masalah, yang penting saling percaya, enak, dan tanggung jawab.”

Semenjak masalah tersebut mencuat, yang bersangkutan sudah pindah ke luar daerah mengurusi bisnis yang lain. ”Kalau di sini (GS) masih punya rumah untuk anak kos, tapi dikelola istrinya (Mami Uut),” jelasnya.

Ketua Keamanan GS, Amir Mahruf, menambahkan dari upaya yang dilakukan pengurus paguyuban, Ketua Hari Utoyo sebenarnya ada iktikad untuk mengembalikan uang tabungan. Bahkan, saat ini rumah yang berada di kompleks Gang Sadar 2 juga siap diuangkan guna menutup kekurangan. ”Intinya dari ketua ada niat untuk mengembalikan uang tabungan,” jelasnya.

Hingga saat ini Hari Utoyo belum bisa dikonfirmasi. Telepon selulernya tidak aktif. Selasa malam saat didatangi di rumahnya RT 7/RW 2 Desa Karangmangu Baturraden, juga sudah tidak ada.
Read More..