Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Desember 2013
Kisah Cinta Seorang Anak Terhadap Ibunya
Seorang janda miskin Siu Lan punya anak umur 7 tahun bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue dipasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya. Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.

Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei dirumah. Siu Lan langsung sangat marah. Putrinya benar-benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.
Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung2, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah. Siu Lan mengguncang2 tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.
Tiba2 sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yg dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tapi masih dapat dibaca,
"Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Mama selamat ulang tahun".
KISAH NYATA ini dimuat di harian Xia Wen Pao-Cina, thn 2007.
sumber

Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei dirumah. Siu Lan langsung sangat marah. Putrinya benar-benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.
Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung2, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah. Siu Lan mengguncang2 tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.
Tiba2 sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yg dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tapi masih dapat dibaca,
"Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Mama selamat ulang tahun".
KISAH NYATA ini dimuat di harian Xia Wen Pao-Cina, thn 2007.
sumber
Senin, 18 November 2013
Ketika Putus Cinta Pria Lebih Merana Daripada Wanita

Kompas.com - Ternyata Pria Lebih Merana Dari Wanita Ketika Putus Cinta. Pria juga manusia; karena itu mereka pun bisa menangis saat putus cinta. Tetapi siapa mengira, putus cinta ternyata lebih "memukul" pria daripada wanita?
Anda mungkin tidak percaya (karena si dia tampaknya terlihat cuek setelah putus hubungan dengan Anda), tetapi fakta tersebut merupakan hasil penelitian dari Wake Forest University di North Carolina. Dalam penelitian yang melibatkan 1.000 orang dewasa (tidak menikah) berusia 18-23 tahun, terlihat bahwa hubungan yang tidak bahagia lebih mempengaruhi pria daripada wanita. Hanya saja, pria mengekspresikan kesedihannya dengan cara yang berbeda.
"Perempuan mengekspresikan kesedihannya dengan depresi, sementaranya pria mengekspresikannya dengan masalah-masalah substansi," ujar Simon.
Robin Simon, profesor bidang sosiologi dari universitas tersebut, juga mendapati bahwa pria mendapat keuntungan emosional yang lebih besar dari aspek-aspek positif hubungan cinta yang sedang berlangsung. Kurang lebih begini penjelasannya: bagi pria muda, pasangan mereka sering menjadi sumber utama curahan kasih sayang. Berbeda dengan perempuan, yang cenderung punya kedekatan dengan keluarga dan teman-temannya.
Ketegangan dalam suatu hubungan sendiri sering dihubungkan dengan kesehatan emosional yang rendah, karena hal itu mengancam identitas dan penghargaan diri pria.
Kemudian, jika pria secara emosional lebih dipengaruhi oleh kualitas hubungannya saat ini, perempuan lebih dipengaruhi oleh kenyataan apakah mereka memiliki hubungan cinta atau tidak. Tidak heran, perempuan lebih cenderung mengalami depresi ketika hubungan itu berakhir, dan sebaliknya mendapat manfaat lebih hanya dengan berada dalam suatu relationship.

Survei ini awalnya dilakukan untuk studi jangka panjang mengenai kesehatan mental dan transisi ke kedewasaan. Karena itu menurut Simon, masih banyak yang perlu dipelajari mengenai hubungan antara pria dan wanita pada usia dewasa muda.
Langganan:
Postingan (Atom)